Jumat, 21 April 2017

Perbandingan Sistem Akuntansi Indonesia dengan Sisten Akuntansi Timor-Leste

Nama : Ngurah Made Noverama K.W
NPM : 26213394
Kelas : 4eb13




Pengertian Akuntansi Internasional
            Akuntansi Internasional adalah akuntansi yang mencakup semua perbedaan prinsip, metode dan standar akuntansi di semua negara termasuk prinsip akuntansi (GAAP) yang diterapkan tiap-tiap negara. Perbedaan akuntansi ini dikarenakan faktor perbedaan geografi, politik, ekonomi, sosial dan hukum. Maka dari itu, mau tidak mau akuntan harus menguasai semua prinsip akuntansi yang berlaku di semua negara [pendekatan akuntansi internasional menurut weirch (Belkaoui, 1985)].
             Nama standar akuntansi internasional adalah IFRS (International Financial Reporting Standards). Dulunya IFRS dienal dengan nama IAS (International Accounting Standards) yang dikeluarkan oleh IASC (International Accounting Standards Committee / komite standar akuntansi internasional). IFRS merupakan kumpulan standar dasar prinsip akuntansi yang penerapannya dilakukan secara internasional.
Sejarah Sistem Akuntansi di Indonesia
Di Indonesia, akuntansi mulai diterapkan sejak 1642, tetapi jejak yang jelas baru ditemui pada pembukuan Amphion Society yang berdiri di Jakarta sejak tahun 1747. Perkembangan akuntansi yang mencolok baru muncul setelah undang-undang mangenai tanam paksa dihapuskan tahun 1870. Dengan dihapuskannya tanam paksa, kaum pengusaha Belanda banyak bermunculan di Indonesia untuk menanamkan modalnya. Sistem yang dianut oleh pengusaha Belanda ini adalah seperti yang diajarkan oleh Luca Pacioli.
Pada Zaman penjajahan Belanda, perusahaan-perusahaan di Indonesia menggunakan tata buku. Akuntansi tidak sama dengan tata buku walaupun asalnya sama-sama dari pembukuan berpasangan. Akuntansi sangat luas ruang lingkupnya, diantaranya teknik pembukuan. Setelah tahun 1960, akuntansi cara Amerika (Anglo-Saxon) mulai diperkenalkan di Indonesia. Jadi, sistem pembukuan yang dipakai di Indonesia berubah dari sistem Eropa (Kontinental) ke sistem Amerika (Anglo-Saxon).
Fungsi pemeriksaan (auditing) mulai dikenalkan di Indonesia tahun 1907, yaitu sejak seorang anggota NIVA, Van Schagen, menyusun dan mengontrol pembukuan perusaan. Pengiriman Van Schagen ini merupakan cikal bakal dibukanya Jawatan Akuntan Negara (GAD – Government Accountant Dients) yang resmi didirikan pada tahun 1915. Akuntan publik pertama adalah Frese & Hogeweg, yang mendirikan kantornya di Indonesia tahun 1918.
Dalam masa pendudukan Jepang, Indonesia sangat kekurangan tenaga di bidang akuntansi. Jabatan-jabatan pimpinan di Jawatan Keuangan yang 90% dipegang oleh bangsa Belanda, menjadi kosong. Dalam masa ini, atas prakarsa Mr. Slamet, didirikan kursus-kursus untuk mengisi kekosongan jabatan tadi dengan tenaga-tenaga Indonesia. Pada tahun 1874, hanya ada seorang akuntan berbangsa Indonesia, yaitu Prof. Dr. Abutari. Di Indonesia, pendidikan akuntansi mulai dirintis dengan dibukanya jurusan akuntansi di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tahun 1952. Pembukaan ini kemudian diikuti Institut Ilmu Keuangan (sekarang Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) tahun 1960 dan Fakultas-fakultas Ekonomi di Universitas Padjadjaran (1961), Universitas Sumatera Utara (1964), universitas Airlangga (1962), dan universitas Gadjah Mada (1964).
Organisasi profesi yang menghimpun para akuntan Indonesia bediri 23 Desember 1957. Organisasi ini diberi nama Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dengan pendiri lima orang akuntan Indonesia.profesi akuntan mulai berkembang dengan pesat sejak tahun 1967. Pada tahun itu juga dikeluarjannya undang-undang modal asing yang kemudian disusul dengan undang-undang penanaman modal dalam negeri tahun 1968 yang merupakan pendorong berkembangnya profesi akuntansi. Setelah krisis ekonomi Indonesia tahun 1997, peran profesi akuntan diakui semakin signifikan mengingat profesi ini memiliki peranan strategis di dalam menciptakan iklim transparansi di Indonesia.
Sistem Ekonomi Timor-Leste
Perekonomian Timor-Leste terbagi antara sebuah sektor pertanian di mana sebanyak 80% dari para perkerja beraktivitas, degan kebanyakan dari mereka masih tergantung pada produksi pertanian subsistem, dan sebuah sektor non-pertanian di mana perusahaan-perusahaan mikro dan kecil merupakan mayoritas besar. Kebanyakan perusahaan perkotaan beroperasi di dalam sebuah lingkungan non-formal, sementara itu baik di sektor pertanian maupun non-pertanian rumah tangga merupakan satuan aktivitas ekonomi yang paling kecil.
Selain pertanian, perusahaan-perusahaan ‘non-formal’ adalah sebuah komponen sektor non-pertanian  yang terbesar. Perbedaan antara perusahaan formal dan non-formal di Timor-Leste adalah sangat problematic. Meskipun pendaftaran usaha dagang memberi sejumlah bimbingan kepada jangkauan aktivitas perusahaan formal namun banyak entitas formal yang memperlihatkan ciri-ciri ‘non-formal’. Dalam hal skala, pemanfaatan tenaga kerja dari lingkungan keluarga, operasi yang berbasis rumahtangga,teknologi-teknologi yang digunakan dan kreteria yang lain. Jadi meskipun semua perusahaan ‘formal’ yang tercatat, tidak semua entitas tercatat di Timor-Leste dapat dianggap sebagai usaha formal.
Di antara perusahaan-perusahaan non-formal (misalnya, yang tidak tercatat), sedikit lebih dari 50% yang hanya mempunyai seorang karyawan. Jadi perbedaannya adalah antara yang kecil dan yang sangat kecil bahkan di sektor ‘formal’ lebih dari 90% entitas yang mempunyai kurang dari 20 orang pekerja. Di perekonomian perkotaan, banyak kegiatan ekonomi non-formal yang stagnan dan memiliki ciri turunan. Sebuah sektor non-formal yang lebih dinamis dengan akses lebih dari kepada jasa-jasa keuangan akan membawa keuntungan-keuntungan, seperti peningkatan alternatif-altenatif kepada lapangan kerja berupah, suatu pembagian pendapatan yang lebih merata danpeningkatan dalam penawaran barang-barang dan jasa-jasa dalam keranjang konsumsi dari para penduduk perkotaan. Penawaran yang lebih besar dan keaneka-ragaman produksi non-formal akan mendukung kebijakan-kebijakan pengedalian upah yang didisain untuk membatasi kelemahan biaya-upah relative Timor-Leste.
Sistem keuangan Indonesia Timor Timur telah hancur pada tahun 1999. Sejak sistem perbankan beroperasi kembali, tingkat kredit dalam negeri telah tumbuh sebagai suatu persentase dari GDP non-minyak, yang menunjukkan sejumlah pemulihan dari kriris keuangan, sambil menaikkan deposito bank sebagai persentase dari tingkat GDP non-minyak guna memperbaiki tingkat-tingkat intermediasi keuangan.
Pengembangan sektor keuangan di Timor-Leste dihambat oleh kelangkaan sumberdaya manusia di dalam sektor ini. Oleh tingkat ‘financial literacy’ yang rendah di antara penduduk dan oleh kelangkaan jasa-jasa tambahan/penyokong di dalam komunitas bisnis.
Timor Leste juga memiiki sebuah lembaga mikro-keuangan, yakni IMTL pemberian izin untuk sebuah lembaga sejenis dengan bank mikro keuangan kecil, berbasis local dan sukses di Indonesia dan Filipina merupakan suatu inovasi yang positif, yang menyuguhkan sebuah model operasi yang khas dan berorientasi pada kemiskinan.



Sabtu, 18 Maret 2017

Analisis SWOT terhadap Profesi Akuntan di Era Global



1.      Pengertian Analisis SWOT
Analisis SWOT adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) dalam suatu proyek atau suatu spekulasi bisnis. Keempat faktor itulah yang membentuk akronim SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, dan threats). SWOT akan lebih baik dibahas dengan menggunakan tabel yang dibuat dalam kertas besar, sehingga dapat dianalisis dengan baik hubungan dari setiap aspek.
Tujuan yang diharapakan dapat terwujud untuk masa yang akan datang dalam era global saat ini yang semakin maju adalah profesi akuntan Indonesia dapat bersaing dengan akuntan luar negeri. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan cara menganalisis profesi akuntan yaitu lulusan akuntan Indonesia dalam era global dengan menggunakan Analisis SWOT setelah itu baru dicari strategi yang harus di implementasikan.

2.      Analisis SWOT terhadap Profesi Akuntan di Era Global
Kekuatan (Strengths) Akuntan di Era Global
Strength adalah analisis kekuatan, situasi ataupun kondisi yang merupakan kekuatan dari suatu organisasi atau perusahaan pada saat ini. Yang perlu dilakukan di dalam analisis ini adalah setiap perusahaan atau organisasi perlu menilai kekuatan-kekuatan dan kelemahan di bandingkan dengan para pesaingnya.
Analisis strength terhadap profesi akuntan Indonesia di era Global adalah akuntan sebagai salah satu elemen yang berkontribusi dengan korporasi dituntut sebagai salah satu penyelamat dari stakeholder. Keputusan investor untuk berinvestasi atau menarik investasinya bergantung pada informasi yang diberikan oleh akuntan. Ekpetasi stakeholder terhadap perusahaan akan bertambah jika manajemen make a good decision based on real financial report. Maka dari itu akuntan di tuntut agar memberikan laporan keuangan yang transparan dan akuntabilitas agar menyejahterakan stakeholder yang mana itu merupakan salah satu tujuan dari korporasi.

Pendekatan open system dalam kerangka structural functionalism, corporate governance dapat dideskripsikan sebagai sistem yang beroperasi melalui aturan main (rules and regulations) tentang bagaimana seharusnya korporasi menjalankan aktivitasnya didalam mencapai tujuan yang ditetapkan. Sistem corporate governance ini dirancang agar mampu melakukan mekanisme check dan balance dalam menjaga keseimbangan berbagai kepentingan didalam korporasi.
Corporate governance dengan pendekatan open system dideskripsikan sebagai sistem yang beroperasi sesuai dengan atau mengacu kepada aturan hukum regulasi agar korporasi mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Untuk mencapai tujuan yang ditetapkan semua pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam korporasi harus mengikuti aturan main dalam corporate governance. Dalam menegakkan prinsip GCG pada perusahaan-perusahaan di Indonesia khususnya prinsip transparasi dan akuntabilitas, penyajian informasi akuntansi yang berkualitas dan lengkap dalam laporan tahunan sangat diperlukan. Akuntan merupakan salah satu profesi yang mendukung diterapkannya corporate governance.

Weaknesses (W)
Masih banyak akuntan Indonesia yang susah mendapatkan pekerjaan di negara sendiri dikarenakan banyak perusahaan yang memakai jasa akuntan asing. Selain itu, masih banyak akuntan Indonesia yang masih belum menguasai bahasa asing seperti bahasa inggris. Padahal, pengusaan bahasa asing khususnya bahasa inggris sangat diperlukan untuk membantu akuntan dalam bekerja. Pemahaman atas standar profesi, akuntansi, audit, dan bidang terkait yang berlaku secara global dan peningkatan kualitas individu untuk bersaing secara regional dan global juga masih kurang dikuasai oleh akuntan Indonesia yang menyebabkan akuntan Indonesia kalah bersaing dengan akuntan asing yang mencari pekerjaan di Indonesia.
Untuk mengurangi kelemahan pada profesi akuntan maka ada standar kompetensi lulusan sarjana akuntansi sebagai berikut:
Kompetensi utama:

a.   Mampun menyusus laporan keuangan perusahaan jasa, dagang, dan manufaktur sesuai standar akuntansi.
b.   Mampu menganalisis informasi keuangan untuk kebutuhan internal perusahaan.
c.   Mampu mendesain sistem akuntansi manual dan berbasis teknologi informasi.
d.   Mampu mendesain Kertas Kerja Audit dan melakukan pengauditan laporan keuangan.
e.   Mampu menyusun dan menganalisis laporan keuangan sector public.

Kompetensi Pendukung:
a.   Mampu belajar secara mandiri dan berkelanjutan (longlife learner).
b.   Mampu menganalisis studi kasus akuntansi dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif.
c.   Mampu menyampaikan pendapat secara jelas baik secara lisan maupun tulisan serta menghargai pendapat orang lain (communication skills).
d.   Mampu bekerja dalam tim untuk menyelesaikan kasus (working inteam skills).
e.   Kreatifitas dan inovatif dalam memberikan solusi terhadap studi kasus (problem solving and creative skills).

Peluang (Opportunities)

Opportunity yaitu analisis peluang, situasi atau kondisi yang merupakan peluang diluar suatu organisasi atau perusahaan dan memberikan peluang berkembang bagi organisasi dimasa depan. Cara ini adalah untuk mencari peluang ataupun terobosan yang memungkinkan suatu perusahaan atau organisasi bila berkembang di masa depan atau masa yang akan datang.

Akuntan Indonesia memilki peluang yang sangat besar untuk mengisi lapangan kerja yang sangat terbuka, mengingat jumlah penduduk Indonesia sebanyak 43 persen dari jumlah penduduk ASEAN dan angkatan tenaga kerja kita mencapai 125,3 juta orang pada tahun 2014, bertambah sebanyak 5,2 juta orang dari tahun lalu. Sesuai data ASEAN Federation of Accountants (AFA) per 25 Januari 2014, Indonesia memiliki 17.649 Akuntan Profesional anggota IAI yang menempati posisi kelima jumlah Akuntan terbesar AFA setelah Thailand dengan anggota 57.244, Malaysia 30.503, Singapura 27.394 dan Philipina 22.072 orang.

Perubahan-perubahan kondisi dinamika local di dalam negeri dan yang dihadirkan oleh era globalisasi pada saat yang sama juga menghadirkan peluang-peluang baru bagi akuntan Indonesia. Peluang bagi akuntan Indonesia adalah dalam otonomi daerah. Dengan adanya desentralisasi ekonomi, daerah kini dipacu untuk mengelola keuangan sendiri secara efektif dan efisien.

Threats

Threats yaitu analisis ancaman, cara menganalisis tantangan atau ancaman yang harus dihadapi oleh suatu perusahaan ataupun organisasi untuk menghadapi berbagai macam faktor lingkungan yang tidak menguntungkan pada suatu perusahaan atau organisasi yang menyebabkan kemunduran.

Analisis tantangan atau ancaman profesi akuntan Indonesia di era Global adalah pada tahun 2015 akan memasuki era ASEAN Economy Community (AEC) atau yang sering dikenal dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Penyelenggaraan AEC akan mendorong arus globalisasi yang sangat pesat dalam berbagai sektor. Penerapan Free Trade Area akan mengakibatkan munculnya akses yang sangat bebas dalam perdagangan global sehingga mengakibatkan persaingan yang semakin kejam.

Untuk menghadapi babak baru dalam AEC, akuntan Indonesia harus mempersiapkan diri menjadi lebih baik dan meningkatkan daya saing. Salah satu cara bagi Indonesia agar dapat bersaing dengan para akuntan professional regional dalam AEC adalah dengan mencetak akuntan yang progresif. Maksud dari akuntan yang progresif adalah akuntan yang memiliki jiwa professional, beretika baik, dan kompetitif sehingga baik fisik maupun psikis siap untuk menghadapi era AEC 2015. Persiapan lain yang dilakukan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dalam menghadapi AEC yaitu meluncurkan silabus ujian Chartered Accountant (CA) Indonesia dalam rangka menyejajarkan akuntan professional Indonesia dalam kerangka persaingan di ASEAN Economic Community 2015.

Sumber.